17.6.11

"Lo kenapa nggak nyapa ?"

rentang waktu itu bukan waktu yang singkat, yang bisa saja berubah menjadi pendek. rentang waktu itu bertransformasi menjadi bilah yang bisa saja melukai. kapan pun , bahkan ketika dalam saat terapuh.

selang beberapa hari semenjak kamu memuntahkan sepercik amarahmu kepada saya, saat senja akan berganti. saat saya sedang berada dalam keadaan yang paling rapuh. kamu marah, kamu membentak saya dengan perkataanmu, yang sebelumnya bahkan kamu tidak pernah seperti ini kepada saya. setetes air mata menetes di pipi saya, yang langsung buru-buru saya hapus.

esoknya saya sudah tidak berharap kamu akan ada lagi buat saya, toh memang sudah sering seperti itu. seringkali kamu datang, dengan jutaan senyum dan bau tubuhmu yang menjadi candu saya lantas kemudian pergi dengan amarah dan api yang selimuti hatimu. tapi saya salah, menjelang siang kamu menghubungi saya meminta untuk ditemani. saya bingung meskipun hati saya sedang berlonjak gembira.

namun, setelah hari itu kamu seakan menghilang. sekelebat bayanganmu yang tak pernah absen sebelumnya, kini seperti ditelan bumi. kamu hilang, begitu saja. tak ada sapaan, tak ada gurauan. hanya kediaman semu dan rasa rindu yang terus membuncah.

saya melihatmu.
di tempat itu. sedang tertawa bahagia sepertinya. dan perempuan.
bergandeng tangan, seakan kamu sendiri berusaha memanjakannya. saya berpaling. merasa tidak sanggup berdiri. lantas pergi ke lain tempat, untuk tidak bertemu dengan kamu.

esok harinya.
kamu menghubungi, hanya sekedar pertanyaan singkat.
lantas aku bertemu denganmu, keluar dari ruangan dengan memakai jaket tebal itu. tersenyum melihat mukaku yang sayu.
ketika akan beranjak pergi, kamu memanggil.
seperti ada cerita yang ingin kamu ceritakan kepada saya, *hati saya tidak siap.
kamu berjalan disamping saya, lalu duduk bersebelahan di kursi kayu. hanya berdua. kamu dan saya ditambah bonus harumtubuhmu yang sudah menjadi candu.

"saya punya selingkuhan." katamu.
"ya, saya tau .. "
"darimana bisa tau ?"
"saya melihatmu kemarin di pusat perbelanjaan itu, bersama seorang perempuan"
"liat saya , kenapa enggak nyapa ? "
"saya cuma liat dari jauh, terus saya langsung pergi."

kamu menatap balik saya , dengan tatapan yang sama saat pertama kali kita bertemu.
dan kamu mencari saya, ketika saya iseng mengucap janji.

"itu selingkuhan saya, pertama kali saya ketemu sama dia, sepertinya dia menarik. yang ada dipikiran saya, gimana caranya saya bisa bersama dia,"
"lalu, perempuan yang ada disana bagaimana ? "
"entah , saya hanya mulai jenuh dengan hubungan ini."

saya miris melihat keadaannmu seperti ini.
berjauhan kota saja sudah berhasil membuat saya sakit hati, lantas bagaimana dengan perempuan baru ini yang nantinya akan satu kota dengan saya .

*saya belum siap sepenuhnya, om*