rentang waktu itu bukan waktu yang singkat, yang bisa saja berubah menjadi pendek. rentang waktu itu bertransformasi menjadi bilah yang bisa saja melukai. kapan pun , bahkan ketika dalam saat terapuh.
selang beberapa hari semenjak kamu memuntahkan sepercik amarahmu kepada saya, saat senja akan berganti. saat saya sedang berada dalam keadaan yang paling rapuh. kamu marah, kamu membentak saya dengan perkataanmu, yang sebelumnya bahkan kamu tidak pernah seperti ini kepada saya. setetes air mata menetes di pipi saya, yang langsung buru-buru saya hapus.
esoknya saya sudah tidak berharap kamu akan ada lagi buat saya, toh memang sudah sering seperti itu. seringkali kamu datang, dengan jutaan senyum dan bau tubuhmu yang menjadi candu saya lantas kemudian pergi dengan amarah dan api yang selimuti hatimu. tapi saya salah, menjelang siang kamu menghubungi saya meminta untuk ditemani. saya bingung meskipun hati saya sedang berlonjak gembira.
namun, setelah hari itu kamu seakan menghilang. sekelebat bayanganmu yang tak pernah absen sebelumnya, kini seperti ditelan bumi. kamu hilang, begitu saja. tak ada sapaan, tak ada gurauan. hanya kediaman semu dan rasa rindu yang terus membuncah.
saya melihatmu.
di tempat itu. sedang tertawa bahagia sepertinya. dan perempuan.
bergandeng tangan, seakan kamu sendiri berusaha memanjakannya. saya berpaling. merasa tidak sanggup berdiri. lantas pergi ke lain tempat, untuk tidak bertemu dengan kamu.
esok harinya.
kamu menghubungi, hanya sekedar pertanyaan singkat.
lantas aku bertemu denganmu, keluar dari ruangan dengan memakai jaket tebal itu. tersenyum melihat mukaku yang sayu.
ketika akan beranjak pergi, kamu memanggil.
seperti ada cerita yang ingin kamu ceritakan kepada saya, *hati saya tidak siap.
kamu berjalan disamping saya, lalu duduk bersebelahan di kursi kayu. hanya berdua. kamu dan saya ditambah bonus harumtubuhmu yang sudah menjadi candu.
"saya punya selingkuhan." katamu.
"ya, saya tau .. "
"darimana bisa tau ?"
"saya melihatmu kemarin di pusat perbelanjaan itu, bersama seorang perempuan"
"liat saya , kenapa enggak nyapa ? "
"saya cuma liat dari jauh, terus saya langsung pergi."
kamu menatap balik saya , dengan tatapan yang sama saat pertama kali kita bertemu.
dan kamu mencari saya, ketika saya iseng mengucap janji.
"itu selingkuhan saya, pertama kali saya ketemu sama dia, sepertinya dia menarik. yang ada dipikiran saya, gimana caranya saya bisa bersama dia,"
"lalu, perempuan yang ada disana bagaimana ? "
"entah , saya hanya mulai jenuh dengan hubungan ini."
saya miris melihat keadaannmu seperti ini.
berjauhan kota saja sudah berhasil membuat saya sakit hati, lantas bagaimana dengan perempuan baru ini yang nantinya akan satu kota dengan saya .
*saya belum siap sepenuhnya, om*
17.6.11
16.5.11
8.5.11
Kali ini tentang Statististik dan Data penduduk .
dua hari ini hujan turun di kota saya setiap sore, bahkan tadi pagi hujan sudah turun.
hari ini saya ada acara, pencarian pengganti untuk organisasi yang saya ikuti , yang tentunya ini organisasi positif yang memberikan banyak ilmu kepada saya..
sore ini saya pulang.
dan gerimis masih turun , saat ibunda saya sendiri memberi kabar tidak bisa menjemput saya di terminal hari ini.
saya bingung .. sesaat kemudian, terlintas dalam pikiran saya untuk menghubungi dia. hanya untuk menanyakan keberadaannya dimana. dan ternyata dia sedang dalam perjalanan menuju kafe tempat langganan kita berdua dengan seorang teman. saya hanya sekedar iseng menawarkan untuk menjemput saya. dan dia bersedia. jadilah saya bertemu dengannya hari ini. dan menghabiskan waktu di kafe langganan kita bersama seorang teman.
hari ini menu saya secangkir espresso.
perasaan saya lagi kacau memang, entah kenapa.
saya duduk di depannya sejak tadi saya datang kesini. berharap dia bisa menyegarkan pikiran saya yang sedang kelelahan karna hanya sempat tidur beberapa jam.
dan perkiraan saya salah.
ada sesuatu yang sedang dicarinya , dan itu untuk orang yang sedang berada di palung hatinya.
saya mungkin merasa kacau sesaat, sampai akhirnya saya menulis dengan pinjaman laptop seorang teman yang baik. sayangnya espresso tidak bisa mengembalikan perasaan saya yang optimis tadi.
"data penduduk"
yang ternyata sedang ia cari. demi dia yang berada disana. dan saya hanya bisa melihatnya, kembali menikmati aroma tubuhnya dari balik laptop yang membatasi saya dan dia. senja sudah menghilang, gulana semakin dalam menyelimuti batin saya. hanya saja saya tidak mampu untuk mengungkapkannya kepada lelaki ini. saya masih sanggup untuk menikmati ini ..
hari ini saya ada acara, pencarian pengganti untuk organisasi yang saya ikuti , yang tentunya ini organisasi positif yang memberikan banyak ilmu kepada saya..
sore ini saya pulang.
dan gerimis masih turun , saat ibunda saya sendiri memberi kabar tidak bisa menjemput saya di terminal hari ini.
saya bingung .. sesaat kemudian, terlintas dalam pikiran saya untuk menghubungi dia. hanya untuk menanyakan keberadaannya dimana. dan ternyata dia sedang dalam perjalanan menuju kafe tempat langganan kita berdua dengan seorang teman. saya hanya sekedar iseng menawarkan untuk menjemput saya. dan dia bersedia. jadilah saya bertemu dengannya hari ini. dan menghabiskan waktu di kafe langganan kita bersama seorang teman.
hari ini menu saya secangkir espresso.
perasaan saya lagi kacau memang, entah kenapa.
saya duduk di depannya sejak tadi saya datang kesini. berharap dia bisa menyegarkan pikiran saya yang sedang kelelahan karna hanya sempat tidur beberapa jam.
dan perkiraan saya salah.
ada sesuatu yang sedang dicarinya , dan itu untuk orang yang sedang berada di palung hatinya.
saya mungkin merasa kacau sesaat, sampai akhirnya saya menulis dengan pinjaman laptop seorang teman yang baik. sayangnya espresso tidak bisa mengembalikan perasaan saya yang optimis tadi.
"data penduduk"
yang ternyata sedang ia cari. demi dia yang berada disana. dan saya hanya bisa melihatnya, kembali menikmati aroma tubuhnya dari balik laptop yang membatasi saya dan dia. senja sudah menghilang, gulana semakin dalam menyelimuti batin saya. hanya saja saya tidak mampu untuk mengungkapkannya kepada lelaki ini. saya masih sanggup untuk menikmati ini ..
5.5.11
bajingan dan banci.
sore ini jalanan masih terlihat masih basah, dan bau tanah masih menyengat terkena hujan.
perut saya sudah mulai paduan suara sejak siang tadi. ditambah lagi saya harus lembur semalaman karena ada tugas dengan deadline waktu yang sangat sempit.
saya memutuskan untuk mampir ke kafe langganan saya, dan hari ini saya memilih smooth mocha latte sebagai teman saya menulis cerita kali ini. saya tidak sendiri saat ini , bersama teman saya . si peramal tarot.
sebenarnya saya sudah membuat janji dengan salah satu orang yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. hanya untuk melunasi hutang saya dengan dia karna saya mewawancarainya untuk tugas saya. pembicaraan saya kali ini dimulai dengan saya dan si peramal tarot. tentu saya masih membicarakan lelaki yang saya tunggu itu. lelaki yang peramal tarot bilang kalau dia lebih memilih hubungan yang tidak jelas yang terjalin bersama saya. dan keadaan lelaki itupun sekarang sedang diselimuti gulana yang kelam. saya hanya memutar bola mata, karna sepertinya dia baik-baik saja, bahkan masih usil dengan saya kemarin.
pembicaraan terus mengalir hingga teman saya datang bersama teman dekatnya yang baru. yang tentu saja bukan menjadi urusan saya. ternyata dia juga tertarik dengan ramalan tarot ini. jadilah mereka berdua diramal oleh si peramal tarot sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.
teman dekat barunya itu mengaku, bahwa ia sedang berselisih paham dengan seseorang yang pernah meminjam hatinya dia dulu. selisih paham yang sampai saat ini kelihatannya belum bisa usai sepenuhnya.
kata si peramal tarot, lelaki yang meminjam hatinya itu sedang mengalami rasa bimbang dan membutuhkan seseorang. sementara orang yang pernah dipinjam hatinya berbicara bahwa lelaki ini tidak sedikitpun memperlihatkan bahwa dia butuh seseorang. terlihat bahwa dia sebenarnya baik-baik saja.
teman dekat saya kemudian berbicara.
dari jaman dulu hingga sekarang , yang namanya laki-laki itu diciptakan untuk menjadi kuat. meskipun dalam batinnya dia sedang bersedih ataupun butuh pundak untuk menangis. lelaki yang seringkali mengekspos perasaannya sendiri, seringkali disangka banci.
kata teman dekat saya lagi.
lelaki didunia ini hanya dua macam, "kalo enggak dia banci ya bajingan, kalo enggak gitu dua duanya"..
=)
perut saya sudah mulai paduan suara sejak siang tadi. ditambah lagi saya harus lembur semalaman karena ada tugas dengan deadline waktu yang sangat sempit.
saya memutuskan untuk mampir ke kafe langganan saya, dan hari ini saya memilih smooth mocha latte sebagai teman saya menulis cerita kali ini. saya tidak sendiri saat ini , bersama teman saya . si peramal tarot.
sebenarnya saya sudah membuat janji dengan salah satu orang yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. hanya untuk melunasi hutang saya dengan dia karna saya mewawancarainya untuk tugas saya. pembicaraan saya kali ini dimulai dengan saya dan si peramal tarot. tentu saya masih membicarakan lelaki yang saya tunggu itu. lelaki yang peramal tarot bilang kalau dia lebih memilih hubungan yang tidak jelas yang terjalin bersama saya. dan keadaan lelaki itupun sekarang sedang diselimuti gulana yang kelam. saya hanya memutar bola mata, karna sepertinya dia baik-baik saja, bahkan masih usil dengan saya kemarin.
pembicaraan terus mengalir hingga teman saya datang bersama teman dekatnya yang baru. yang tentu saja bukan menjadi urusan saya. ternyata dia juga tertarik dengan ramalan tarot ini. jadilah mereka berdua diramal oleh si peramal tarot sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.
teman dekat barunya itu mengaku, bahwa ia sedang berselisih paham dengan seseorang yang pernah meminjam hatinya dia dulu. selisih paham yang sampai saat ini kelihatannya belum bisa usai sepenuhnya.
kata si peramal tarot, lelaki yang meminjam hatinya itu sedang mengalami rasa bimbang dan membutuhkan seseorang. sementara orang yang pernah dipinjam hatinya berbicara bahwa lelaki ini tidak sedikitpun memperlihatkan bahwa dia butuh seseorang. terlihat bahwa dia sebenarnya baik-baik saja.
teman dekat saya kemudian berbicara.
dari jaman dulu hingga sekarang , yang namanya laki-laki itu diciptakan untuk menjadi kuat. meskipun dalam batinnya dia sedang bersedih ataupun butuh pundak untuk menangis. lelaki yang seringkali mengekspos perasaannya sendiri, seringkali disangka banci.
kata teman dekat saya lagi.
lelaki didunia ini hanya dua macam, "kalo enggak dia banci ya bajingan, kalo enggak gitu dua duanya"..
=)
4.5.11
saya menikmati ini.
kemarin teman saya meramal saya menggunakan kartu tarot di cafe tempat saya biasa ngopi.
saya hanya penasaran, iseng saya bertanya kepada dia. tentang keadaan saya, hubungan dengan lelaki yang sedang sukai, bahkan keadaan saya dan teman-teman saya. ia tertawa melihat saya mengajukan pertanyaan saya itu. sambil menyulut rokok ditangannya, dia mulai membagikan kartu tarotnya.
yang pertama tentang keadaan saya saat itu.
kata dia, saya sedang bimbang dengan keadaan saya dan saya butuh seseorang untuk bisa menangkan hati saya.
sementara, teman terdekat saya lebih suka memanfaatkan saya daripada berteman dengan saya. kata dia, lebih mencari teman yang baik, dan saya nyaman bersama teman saya itu.
yang kedua tentang lelaki yang saya sukai beberapa bulan ini.
teman saya mengatakan, dia sebenarnya juga menyukai saya, hanya saja saat itu saya mengaku kalau saya sudah ada yang memiliki. dan ini yang akhirnya membuat semuanya fatal. suatu ketika lelaki itu meminjam handphone saya, dan menghapus gambarnya yang memang sengaja saya simpan. kata teman saya, "kalau saya ada di posisi dia, dan kamu sudah memiliki yang lain, saya tidak ingin menganggu hubungan orang yang sayang. saya hanya ingin melihat kamu bahagia." sekarang yang ada saya hanya merasa menyesal dengan perkataan saya , karna saat ini saya harus menerima kenyataan kalau lelaki itu sudah ada yang memiliki.
yang ketiga keadaan tentang lelaki itu.
dia sedang bimbang dengan keadaan dirinya, hanya saja dia misterius dan lebih suka memendamnya sendiri tanpa berbicara dengan orang lain.
akhir dari permainan tarot ini saya berkata pada teman saya.
saya dan teman-teman saya mungkin selalu berakhir seperti ini, saya hanya tidak ingin jadi orang jahat yang seketika itu juga menganggap dia hilang dalam kehidupan saya. saya masih menganggap dia meski saya harus menerima bahwa saya sudah hilang dari kehidupan dia. saya menikmati alur ini.
mengenai saya dan lelaki itu.
saya mungkin menyesal akan perkataan saya itu. tapi, 3 bulan bukan waktu yang terbuang begitu saja bagi saya. karna 3 bulan yang saya lewati bersama dia, menyisakan kenangan. dan sampai saat ini , saat 15 menit yang lalu saat dia duduk disebelah saya, tertawa. saya menikmati itu. saya menikmati setiap detik yang bisa saya lewatkan bersama dia. kalau memang hanya itu yang bisa saya lakukan. menikmati saat dia berbicara dengan saya bahkan harum tubuhnya.
saya menikmati perasaan ini.
senang dan sakitnya. meski kadang saya harus menangis dan kadang tersenyum melihat tingkah lakunya.
saya menikmati ketidajelasan hubungan ini.
=)
saya hanya penasaran, iseng saya bertanya kepada dia. tentang keadaan saya, hubungan dengan lelaki yang sedang sukai, bahkan keadaan saya dan teman-teman saya. ia tertawa melihat saya mengajukan pertanyaan saya itu. sambil menyulut rokok ditangannya, dia mulai membagikan kartu tarotnya.
yang pertama tentang keadaan saya saat itu.
kata dia, saya sedang bimbang dengan keadaan saya dan saya butuh seseorang untuk bisa menangkan hati saya.
sementara, teman terdekat saya lebih suka memanfaatkan saya daripada berteman dengan saya. kata dia, lebih mencari teman yang baik, dan saya nyaman bersama teman saya itu.
yang kedua tentang lelaki yang saya sukai beberapa bulan ini.
teman saya mengatakan, dia sebenarnya juga menyukai saya, hanya saja saat itu saya mengaku kalau saya sudah ada yang memiliki. dan ini yang akhirnya membuat semuanya fatal. suatu ketika lelaki itu meminjam handphone saya, dan menghapus gambarnya yang memang sengaja saya simpan. kata teman saya, "kalau saya ada di posisi dia, dan kamu sudah memiliki yang lain, saya tidak ingin menganggu hubungan orang yang sayang. saya hanya ingin melihat kamu bahagia." sekarang yang ada saya hanya merasa menyesal dengan perkataan saya , karna saat ini saya harus menerima kenyataan kalau lelaki itu sudah ada yang memiliki.
yang ketiga keadaan tentang lelaki itu.
dia sedang bimbang dengan keadaan dirinya, hanya saja dia misterius dan lebih suka memendamnya sendiri tanpa berbicara dengan orang lain.
akhir dari permainan tarot ini saya berkata pada teman saya.
saya dan teman-teman saya mungkin selalu berakhir seperti ini, saya hanya tidak ingin jadi orang jahat yang seketika itu juga menganggap dia hilang dalam kehidupan saya. saya masih menganggap dia meski saya harus menerima bahwa saya sudah hilang dari kehidupan dia. saya menikmati alur ini.
mengenai saya dan lelaki itu.
saya mungkin menyesal akan perkataan saya itu. tapi, 3 bulan bukan waktu yang terbuang begitu saja bagi saya. karna 3 bulan yang saya lewati bersama dia, menyisakan kenangan. dan sampai saat ini , saat 15 menit yang lalu saat dia duduk disebelah saya, tertawa. saya menikmati itu. saya menikmati setiap detik yang bisa saya lewatkan bersama dia. kalau memang hanya itu yang bisa saya lakukan. menikmati saat dia berbicara dengan saya bahkan harum tubuhnya.
saya menikmati perasaan ini.
senang dan sakitnya. meski kadang saya harus menangis dan kadang tersenyum melihat tingkah lakunya.
saya menikmati ketidajelasan hubungan ini.
=)
3.5.11
angka dan lelaki muda itu.
masih pukul dua lewat 10 menit.
saat saya dan teman saya sejenak beristirahat setelah menghabiskan beberapa saat tadi mencari informasi.
segelas lemon tea dan semangkok bakso buatan teman , menemani saya menulis. sejenak saya menyadari sesuatu sedang terjadi disebelah kanan saya. saya bukan menguping atas pembicaraan mereka, hanya angin membawa suara mereka sampai di telinga saya.
perempuan berseragam SMA itu tiba-tiba datang, lantas melemparkan tasnya begitu saja diatas kursi kayu. sementara lelaki yang dihampirinya nampak terkejut melihat perempuan yang dinantinya menangis. perempuan itu tersedu, rambutnya sudah tak lagi rapi, keringat seperti tercampur dengan air matanya. sementara lelaki itu berusaha menenangkan kekasihnya yang berada dihadapannya.
sayup pembicaraan mereka mulai terdengar. dengan nada halus lelaki itu masih tetap berusaha menangkan perempuan yang masih tersedu.
perbedaan usia.
lelaki itu hanya terpaut beberapa tahun dan perempuan itu jauh berada dibawah usianya.
beberapa orang terlihat mulai menentang hububungan mereka. dalam hal ini selalu lelaki yang nantinya menjadi kambing hitam yang dipersalahkan.
beberapa waktu lalu saya sempat mengalami hal yang serupa.
seseorang lelaki muda menaruh hati kepada saya. jujur saja, saya nyaman dengan perhatian yang ia berikan kepada saya kala itu. tapi lama kelamaan saya menyadari sesuatu, hanya saja saya masih mengingkarinya. saya masih menginginkan kebersamaan saya dengan dia. dia selalu mengeluh tentang usia yang terpaut cukup jauh dengan saya. dan sekali lagi saya mengakui, saya tidak pernah mempermasalahkan masalah usia antara saya dan dia.
bagi saya usia hanya sebuah angka yang dipakai untuk mengukur berapa lama manusia hidup semenjak dia lahir di muka bumi ini. lantas berapa lama rasa sayang ada di dunia? lalu kenapa hanya karena masalah angka, saya harus membohongi nurani saya bahwa kita berdua tidak pantas untuk bersama. padahal saya masih menginginkan perhatian dan kasih sayang yang dia berikan.
meskipun hubungan itu hanya beberapa waktu, saya menghargai dengan sepenuh hati bahwa dia pernah mengisi sudut hati saya. meminjamkan hatinya untuk saya peluk meski hanya cuma sebentar. terkadang saya berpikir, apa yang ada dalam batin saya hingga saya menaruh hati kepada dia yang terpaut usia beberapa tahun dengan dia. padahal hanya permasalahan angka. hanya itu.
bahkan kedewasaan seseorang tidak bisa ditentukan oleh hanya sebuah usia.
sampai detik saat saya menulis ini , saya masih menaruh sekelumit harapan atas dia.
*faldi.
saat saya dan teman saya sejenak beristirahat setelah menghabiskan beberapa saat tadi mencari informasi.
segelas lemon tea dan semangkok bakso buatan teman , menemani saya menulis. sejenak saya menyadari sesuatu sedang terjadi disebelah kanan saya. saya bukan menguping atas pembicaraan mereka, hanya angin membawa suara mereka sampai di telinga saya.
perempuan berseragam SMA itu tiba-tiba datang, lantas melemparkan tasnya begitu saja diatas kursi kayu. sementara lelaki yang dihampirinya nampak terkejut melihat perempuan yang dinantinya menangis. perempuan itu tersedu, rambutnya sudah tak lagi rapi, keringat seperti tercampur dengan air matanya. sementara lelaki itu berusaha menenangkan kekasihnya yang berada dihadapannya.
sayup pembicaraan mereka mulai terdengar. dengan nada halus lelaki itu masih tetap berusaha menangkan perempuan yang masih tersedu.
perbedaan usia.
lelaki itu hanya terpaut beberapa tahun dan perempuan itu jauh berada dibawah usianya.
beberapa orang terlihat mulai menentang hububungan mereka. dalam hal ini selalu lelaki yang nantinya menjadi kambing hitam yang dipersalahkan.
beberapa waktu lalu saya sempat mengalami hal yang serupa.
seseorang lelaki muda menaruh hati kepada saya. jujur saja, saya nyaman dengan perhatian yang ia berikan kepada saya kala itu. tapi lama kelamaan saya menyadari sesuatu, hanya saja saya masih mengingkarinya. saya masih menginginkan kebersamaan saya dengan dia. dia selalu mengeluh tentang usia yang terpaut cukup jauh dengan saya. dan sekali lagi saya mengakui, saya tidak pernah mempermasalahkan masalah usia antara saya dan dia.
bagi saya usia hanya sebuah angka yang dipakai untuk mengukur berapa lama manusia hidup semenjak dia lahir di muka bumi ini. lantas berapa lama rasa sayang ada di dunia? lalu kenapa hanya karena masalah angka, saya harus membohongi nurani saya bahwa kita berdua tidak pantas untuk bersama. padahal saya masih menginginkan perhatian dan kasih sayang yang dia berikan.
meskipun hubungan itu hanya beberapa waktu, saya menghargai dengan sepenuh hati bahwa dia pernah mengisi sudut hati saya. meminjamkan hatinya untuk saya peluk meski hanya cuma sebentar. terkadang saya berpikir, apa yang ada dalam batin saya hingga saya menaruh hati kepada dia yang terpaut usia beberapa tahun dengan dia. padahal hanya permasalahan angka. hanya itu.
bahkan kedewasaan seseorang tidak bisa ditentukan oleh hanya sebuah usia.
sampai detik saat saya menulis ini , saya masih menaruh sekelumit harapan atas dia.
*faldi.
27.2.11
secangkir chocolate mint dan kamu ..
saya duduk di sofa warna merah saat saya melihat kamu ada di balik meja sedang membuat pesanan kopi meja sebelah saya. sudah 2 hari datang kemari dan duduk di meja yang sama , nomer 5 dan sofa warna merah. dan sudah 2 hari juga saya memperhatikanmu, sibuk dengan mesin pembuat kopi. dengan sesekali merapikan rambutmu yang sedikit agak keriting itu. saya suka melihatnya.
vanila sensation .
itu yang saya pesan pertama kali, dan kamu bilang sedang tidak ada .
saya menanti .
melihat daftar menu sambil melirikmu yang sekarang berdiri tepat dihadapan saya. dan saya meminta minuman terbaik yang ada di kedai kopi ini. dan akhirnya hazelnut shake jadi pilihan saya.
hari lain saya datang lagi ke kedai kopi saya.
kali ini saya mau chocolate mint, dan kamu muncul di hadapan saya mengantarkan pesanan saya.
dan saya merasa gemuruh di hati saya hari itu menghilang,
hei kamu !
pria yang berhasil meredam gemuruh dalam hati saya, siapa nama mu ?
21.2.11
pretending just like i am tonight .
ia .
berusaha menghapus memori yang tersimpan agar saya bisa melupakan ia. agar saya bisa kembali pada mereka. saya terhimpit dalam keadaan yang mulai menyesakkan ini. dan saya hanya bisa menopang dagu, menyaksikan ia berlari-lari dalam pikiran saya. sementara saya dilarang keras untuk melirik apa yang sedang ia lakukan pada hati saya.
ia.
sama sekali tidak mengetahui, bahwa memori itu sudah tertanam rapi. tidak bisa dirubah, dan akan tetap saya kunci. saya tidak ingin menghapusnya, sekalipun ia berusaha keras untuk menghapus memori saya tentang ia. bulir air mata rasanya sudah tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana pertahanan saya sedang saya perbaiki. bercerita pada secangkir kopi tidak bisa mencapai klimaks. saya hanya bisa menutup muka saya dengan bantal, agar teriakan saya tidak terdengar. dan sekali lagi itu belum mampu tuntaskan semua.
ia.
bukan yang memegang kunci hati ini. tapi saya suka saat ia peluk saya, senyumnya, nasehat yang ia berikan pada saya karna memang usia kita terpaut, kebaikannya dan saat saya dan ia tertawa. dan saat saya membuka mata, ada ia disamping saya mencium kening saya.
ia.
saya tidak perduli bagaimana masa lalu yang ia lalui, karna saya tidak mau menjadi bagian dari masa lalunya. saya hanya perduli apa masih ada tempat bagi saya untuk nanti di masa depannya ? saya lapar, lapar akan hadirnya ia disamping saya, dan saya hanya bisa duduk diam. meanrikmu disamping saya membutuhkan banyak tenaga. dan saya sedang kehabisan tenaga. jadi saya harus menikmati lapar ini.
saya.
hanya bisa memakai topeng untuk menutup kesedihan saya. kesakitan saya yang akan saya redam sendiri.
berusaha menghapus memori yang tersimpan agar saya bisa melupakan ia. agar saya bisa kembali pada mereka. saya terhimpit dalam keadaan yang mulai menyesakkan ini. dan saya hanya bisa menopang dagu, menyaksikan ia berlari-lari dalam pikiran saya. sementara saya dilarang keras untuk melirik apa yang sedang ia lakukan pada hati saya.
ia.
sama sekali tidak mengetahui, bahwa memori itu sudah tertanam rapi. tidak bisa dirubah, dan akan tetap saya kunci. saya tidak ingin menghapusnya, sekalipun ia berusaha keras untuk menghapus memori saya tentang ia. bulir air mata rasanya sudah tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana pertahanan saya sedang saya perbaiki. bercerita pada secangkir kopi tidak bisa mencapai klimaks. saya hanya bisa menutup muka saya dengan bantal, agar teriakan saya tidak terdengar. dan sekali lagi itu belum mampu tuntaskan semua.
ia.
bukan yang memegang kunci hati ini. tapi saya suka saat ia peluk saya, senyumnya, nasehat yang ia berikan pada saya karna memang usia kita terpaut, kebaikannya dan saat saya dan ia tertawa. dan saat saya membuka mata, ada ia disamping saya mencium kening saya.
ia.
saya tidak perduli bagaimana masa lalu yang ia lalui, karna saya tidak mau menjadi bagian dari masa lalunya. saya hanya perduli apa masih ada tempat bagi saya untuk nanti di masa depannya ? saya lapar, lapar akan hadirnya ia disamping saya, dan saya hanya bisa duduk diam. meanrikmu disamping saya membutuhkan banyak tenaga. dan saya sedang kehabisan tenaga. jadi saya harus menikmati lapar ini.
saya.
hanya bisa memakai topeng untuk menutup kesedihan saya. kesakitan saya yang akan saya redam sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)
